December 14, 2011

'Living the Now'

Ada orang yg katanya berani, yg bilang 'I wanna be your hero dear, I wanna sacrify my own happiness, i do this for your happiness'

Sang filsuf Paolo Coelho percaya, bahwa kita tidak akan pernah benar-benar bisa tau apa yang membuat orang lain bahagia.
Sama seperti orang lain tdk akan pernah benar-benar bisa tau apa yang membuat kita bahagia.

Jangan terlalu percaya diri dan mengklaim bahwa kita akan jadi pahlawannya siapapun, hanya karena kita yakin bahwa bahagianya hanya bersumber dari pengorbanan kita.

Remember, our goal is being a HERO, instead of being ZERO.

Ketika kita memaksa diri berkorban dan menganggap pengorbanan kita tsb penting buatnya, apa jadinya jika pengorbanan kita itu justru menjadi sumber kesedihannya? 

Contoh, kita memilih pergi meninggalkan hubungan dan mengorbankan perasaan sendiri demi agar dia mendapatkan yg lebih baik dari kita di kemudian hari. Kita merasa yakin dia akan tersiksa bila kita pertahankan hubungan. Artinya kita sudah mewakili perasaan nya. Wah, hebat ya?!

Tidak pernah ada sejarahnya hati itu dapat terwakilkan selain si pemilik nya sendiri. Being a hero is not always by saving him from fire, not always by sacrificing and abandon what's our inside. Bisa saja dia menginginkan sebaliknya, menerima keterjepitan asalkan tetap ditemani dalam kondisi apapun, tanpa jaminan masa depanpun asalkan kita selalu mendampinginya, menjadikan diri kita partner hidup mengarungi samudra hidup, menjadikan diri kita sisi lain dari seorang pahlawan dan sumber kekuatannya untuk jalani tapak yg berbeling. Seberapa kelampun ujung jalan yg akan dilaluinya. Yang berhak mencap diri kita pahlawan, adalah orang lain, bukan diri kita sendiri.


Being a hero can also by making a person slip and fall, so he can learn how to stand up and passing thru all the gravel. By making a person drawn then he knows how to breath in the water, for me, that's how a hero should do. We never know how meaningful those lessons for him. To upgrade him from average people's level.

Kita toh gak akan pernah tau apakah orang yg kita jaga agar masa depannya bahagia itu akan benar-benar bahagia nantinya. Tidak bijak menghukum diri sendiri dan orang lain hari ini, hanya karena yakin dengan berpisah, besok kita pasti akan bahagia masing-masing. Tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali KEMATIAN.

So, mengapa mengorbankan bahagia yg kita miliki hari ini padahal kita yakin besok atau lusa kita akan mati?

Seperti apa yang selalu di percayai Steve Jobs ; by believing that we are goin to die tmrw, there's no other way than to follow your heart.

Yang paling penting sekarang adalah komunikasikan apa yg menjadi kekhawatiran kita terhadap apa yg akan terjadi didepan. Biarkan orang yang akan kita pahlawani itu memilih. Jika dia bersedia memilih jalan sulit didepan bersama kita, respect his willingness, accompany him thru all, hold his hands and help him by never leave him. Be together as life soldier. I copy an obsolete quote which always true ; together is better than alone.

Suat saat nanti, ditengah jalan penuh beling dan kerikil itu, ketika matahari tiba-tiba berbaik hati menyingkirkan awan gelap diatas kepala, kita akan bersyukur masih bisa tersenyum, bahwa saat kita menoleh kesamping, masih ada dia yang kita inginkan menemani kita di masa depan.

'choose to Living the Now, don't choose to Leaving what we have Now'
So, carry on ...
Together.

2 comments:

-nda- said...

thank you, from the deep of my heart.
*bighug

Aneth Purbasari said...

This story is for us ;)